Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Hukum Fidyah, Qadha dan Keringanan Puasa
| Nama kitab | : | Kifayatul Akhyar |
| Judul kitab Arab | : | كفاية الأخيار |
| Judul terjemah | : | Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar |
| Mata Pelajaran | : | Fiqih |
| Musonif | : | Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi |
| Nama Arab | : | الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق |
| Lahir | : | Hauran, 752 H |
| Wafat | : | Damaskus, 1 Syawal 829 H |
| Penerjemah | : | Ahsan Dasuki |
Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Kitab Puasa
Image by © LILMUSLIMIIN
كِتَابُ الصِّيَامِ
Kitab puasa.
Hukum Fidyah, Qadha dan Keringanan Puasa
قَالَ: (وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ مِنْ رَمَضَانَ أُطْعِمَ عَنْهُ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ وَالشَّيْخُ الْفَانِي إِنْ عَجَزَ عَنِ الصَّوْمِ يُفْطِرُ وَيُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا)
Syekh Abu Syuja berkata: (Dan barangsiapa meninggal dan atasnya (hutang) puasa dari Ramadhan, maka diberi makan dari orang tersebut untuk setiap hari satu mud. Dan orang tua renta jika tidak mampu dari puasa, maka ia boleh tidak berpuasa dan memberi makan untuk setiap hari satu mud).
Hukum Puasa Bagi Orang Yang Meninggal
مَنْ فَاتَهُ صِيَامٌ مِنْ رَمَضَانَ وَمَاتَ نُظِرَ إِنْ مَاتَ قَبْلَ تَمَكُّنِهِ مِنَ الْقَضَاءِ بِأَنْ مَاتَ وَعُذْرُهُ قَائِمٌ كَاسْتِمْرَارِ الْمَرَضِ فَلَا قَضَاءَ وَلَا فِدْيَةَ وَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَإِنْ مَاتَ بَعْدَ التَّمَكُّنِ وَجَبَ تَدَارُكُ مَا فَاتَهُ
Barangsiapa yang luput darinya puasa dari Ramadhan dan ia meninggal, maka dilihat: jika ia meninggal sebelum kemampuannya untuk mengqadha’, yaitu ia meninggal dan uzurnya masih ada seperti berlanjutnya sakit, maka tidak ada qadha’ dan tidak ada fidyah dan tidak ada dosa atasnya1. Dan jika ia meninggal setelah kemampuan (untuk mengqadha’), maka wajib mengganti puasa yang luput darinya2.
Catatan
1.
Misal ada seseorang yang tidak berpuasa di tanggal 15 sampai 20 ramadhan karena sakit kemudian pada tanggal 21 ramadhan ia meninggal dunia maka tidak wajib bagi keluarganya untuk berpuasa atas namanya dan juga tidak wajib fidyah dan ia tidak berdosa sebab ia meninggal sebelum ada kemampuan untuk mengqadha puasanya.
2.
Jika seseorang tidak berpuasa di bulan ramadhan selama 5 hari misal karena sakit kemudian pada tanggal 2 bulan syawal ia kembali sehat lalu ia belum mengqadha puasanya hingga ia meniggal pada tanggal 10 syawal maka wajib atas orang tersebut untuk mengganti puasa yang luput darinya karena ia meninggal setelah ada kemampuan untuk mengqadha
وَفِي كَيْفِيَّةِ التَّدَارُكِ قَوْلَانِ الْجَدِيدُ وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي أَكْثَرِ كُتُبِهِ الْقَدِيمَةِ أَنَّهُ يُخْرَجُ مِنْ تِرْكَتِهِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ مِنْ طَعَامٍ
Dan dalam tata cara mengganti ada dua pendapat: Pendapat baru (qoul jadid) dan Imam Syafi’i telah menash tentangnya dalam kebanyakan kitab-kitabnya dari pendapat lama (qoul qodim) bahwa dikeluarkan dari harta peninggalannya untuk setiap hari satu mud dari makanan.
أَفْتَتْ بِذَلِكَ عَائِشَةُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا وَفِي حَدِيثٍ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالصَّحِيحُ وَقْفُهُ عَلَى ابْنِ عُمَرَ
Siti Aisyah Radhiallahu Anha dan Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma telah berfatwa demikian. Dan dalam sebuah hadits, Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan pada hadits ini, dan yang shahih adalah hadits tersebut mauquf pada Ibnu Umar.
وَالْمُدُّ رُبْعُ صَاعِ الْفِطْرَةِ وَهُوَ رِطْلٌ وَثُلُثٌ بِالْعِرَاقِيِّ وَالْقَوْلُ الْآخَرُ وَيُنْسَبُ إِلَى الْقَدِيمِ وَنَصَّ عَلَيْهِ أَيْضًا فِي الْأَمَالِي فَقَالَ إِنْ صَحَّ الْحَدِيثُ قُلْتُ بِهِ وَالْأَمَالِي مِنْ كُتُبِهِ الْجَدِيدَةِ
Dan satu mud adalah seperempat sha’ fitrah, dan ia adalah satu rithl dan sepertiga menurut (ukuran) Irak. Dan pendapat lain dinisbatkan kepada pendapat lama (qoul qodim) dan Imam Syafi’i telah menash tentangnya juga dalam kitab Al-Amali, lalu ia berkata: “Jika hadits itu shahih, aku akan berpendapat dengannya.” Dan kitab Al-Amali termasuk kitab-kitabnya yang baru.
Catatan
1.
Satu mud sama dengan 680 gram.
بَلْ قَالَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ يَجِبُ أَنْ يُصَامَ عَنْهُ وَأَنَّهُ لَا يَتَعَيَّنُ الْإِطْعَامُ بَلْ يَجُوزُ لِلْوَلِيِّ أَنْ يَصُومَ عَنْهُ بَلْ يُسْتَحَبُّ لَهُ ذَلِكَ كَمَا نَقَلَهُ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ.
Bahkan Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib berkata: Berkata Imam Syafi’i dalam pendapat lama (qaul qadim): wajib untuk dipuasakan darinya (atas nama mayit), dan bahwasanya tidak wajib memberi makan (sebagai ganti puasa), bahkan boleh bagi wali untuk berpuasa darinya (atas nama mayit), bahkan disunnahkan baginya hal itu, sebagaimana Imam Nawawi telah menukil pendapat tersebut dalam kitab Syarah Muslim.
قَالَ النَّوَوِيُّ: الْقَدِيمُ هُنَا أَظْهَرُ، بَلِ الصَّوَابُ الَّذِي يَنْبَغِي الْجَزْمُ بِهِ لِصِحَّةِ الْأَحَادِيثِ فِيهِ، وَلَيْسَ لِلْجَدِيدِ حُجَّةٌ، وَالْحَدِيثُ الْوَارِدُ فِي الْإِطْعَامِ ضَعِيفٌ. وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.
Imam Nawawi berkata: Pendapat lama (qoul qadim) di sini adalah pendapat yang lebih jelas (kuat), bahkan yang benar yang seharusnya ditetapkan dengan pendapat tersebut karena shahihnya hadits-hadits dalam masalah ini, dan tidak ada bagi pendapat baru (qoul jadid) suatu hujjah. Dan hadits yang datang tentang memberi makan (sebagai ganti puasa) adalah hadits dhaif. Dan Allah lebih mengetahui.
فَعَلَى الْقَدِيمِ لَوْ أَمَرَ الْوَلِيُّ أَجْنَبِيًّا فَصَامَ عَنْهُ بِأُجْرَةٍ أَوْ بِغَيْرِهَا جَازَ كَالْحَجِّ. وَلَوْ اسْتَقَلَّ الْأَجْنَبِيُّ لَمْ يَجُزْ عَلَى الْأَصَحِّ.
Maka berdasarkan pendapat lama (qoul qadim), jika wali memerintahkan orang lain lalu orang lain tersebut berpuasa atas nama mayit dengan upah atau tanpa upah, maka boleh, seperti haji. Dan jika orang lain (bukan wali) berpuasa sendiri, maka tidak boleh menurut pendapat yang paling shahih.
وَهَلِ الْمُعْتَبَرُ عَلَى الْقَدِيمِ الْقَرِيبُ الْوَارِثُ أَمِ الْعَصَبَةُ أَمْ مُطْلَقُ الْقَرَابَةِ قَالَ الرَّافِعِيُّ: الْأَشْبَهُ اعْتِبَارُ الْإِرْثِ. وَقَالَ النَّوَوِيُّ: الْمُخْتَارُ مُطْلَقُ الْقَرَابَةِ.
Dan apakah yang dianggap (berhak) menurut pendapat lama (qoul qadim) adalah kerabat yang mewarisi, atau ashabah, atau kerabat secara mutlak? Imam Rafi’i berkata: Yang lebih mirip (dekat) adalah mempertimbangkan warisan. Dan Imam Nawawi berkata: Pendapat yang terpilih adalah kerabat secara mutlak.
قَالَ: فَفِي صَحِيْحِ مُسْلِمٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: [لِامْرَأَةٍ تَصُومُ عَنْ أُمِّهَا] وَهَذَا يُبْطِلُ احْتِمَالَ الْعُصُوبَةِ وَيُضَعِّفُ قَوْلَ الْإِرْثِ، فَإِنَّهَا غَيْرُ مُسْتَغْرِقَةٍ لِلْمَالِ، وَلَمْ يَسْتَفْسِرْ مِنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ. وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.
Imam Nawawi berkata: Dan dalam kitab Shahih Muslim sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [kepada seorang wanita yang berpuasa atas nama ibunya]. Dan ini membatalkan kemungkinan ashabah (sebagai syarat), dan melemahkan pendapat warisan (sebagai syarat), karena sesungguhnya ia (wanita tersebut) tidak menghabiskan seluruh harta, dan Nabi ﷺ tidak meminta penjelasan kepada wanita tersebut tentang hal itu. Dan Allah lebih mengetahui.
Hukum Puasa Bagi Orang yang Sangat Tua atau Bagi Orang Sakit Yang Tidak Dapat Disembuhkan
وَأَمَّا الشَّيْخُ الْهَرِمُ الَّذِي لَا يُطِيقُ الصَّوْمَ أَوْ يَلْحَقُهُ بِهِ مَشَقَّةٌ شَدِيدَةٌ فَلَا صَوْمَ عَلَيْهِ وَتَجِبُ عَلَيْهِ الْفِدْيَةُ عَلَى الْأَظْهَرِ وَيَجْرِي الْقَوْلَانِ فِي الْمَرِيضِ الَّذِي لَا يُرْجَى زَوَالُ مَرَضِهِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Adapun orang tua yang sangat tua yang tidak mampu berpuasa atau dengan berpuasa kesulitan yang sangat berat dapat menimpanya, maka tidak ada kewajiban puasa kepadanya dan wajib atasnya fidyah menurut pendapat adzhar. Dan berlaku dua pendapat pada orang sakit yang tidak dapat diharapkan hilangnya penyakitnya. Dan Allah lebih mengetahui.
Hukum Puasa Bagi Wanita Hamil atau Menyusui
قَالَ: (وَالْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ إِنْ خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَفْطَرَتَا وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ وَإِنْ خَافَتَا عَلَى وَلَدَيْهِمَا أَفْطَرَتَا وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ وَالْكَفَّارَةُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ)
Syekh Abu Syuja berkata (Wanita hamil dan wanita menyusui jika keduanya khawatir atas diri mereka berdua, maka mereka berdua boleh tidak berpuasa dan wajib atas keduanya qadha’. Dan jika keduanya khawatir atas anak mereka berdua, maka mereka berdua boleh tidak berpuasa dan wajib atas keduanya qadha’ dan kaffarah dari setiap satu hari satu mud.)
إِذَا خَافَتِ الْحَامِلُ أَوِ الْمُرْضِعُ عَلَى أَنْفُسِهِمَا ضَرَرًا بَيِّنًا مِنَ الصَّوْمِ مِثْلَ الضَّرَرِ النَّاشِئِ لِلْمَرِيضِ مِنَ الْمَرَضِ أَفْطَرَتَا وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ كَالْمَرِيضِ وَسَوَاءٌ تَضَرَّرَ الْوَلَدُ أَمْ لَا كَمَا قَالَهُ الْقَاضِي حُسَيْنٌ وَلَا فِدْيَةَ كَالْمَرِيضِ
Apabila wanita hamil atau wanita menyusui khawatir kepada diri mereka berdua terhadap bahaya yang jelas dari puasa, seperti bahaya yang timbul bagi orang sakit dari penyakit, maka mereka berdua boleh tidak berpuasa dan wajib atas keduanya qadha’ seperti orang sakit. Dan sama saja apakah anak terkena bahaya atau tidak. Sebagaimana Al-Qadhi Husain telah mengatakan tentangnya dan tidak ada kewajiban fidyah seperti orang sakit.
وَإِنْ خَافَتَا عَلَى وَلَدَيْهِمَا بِسَبَبِ إِسْقَاطِ الْوَلَدِ فِي الْحَامِلِ وَقِلَّةِ اللَّبَنِ فِي الْمُرْضِعِ أَفْطَرَتَا وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ لِلْإِفْطَارِ وَالْفِدْيَةُ عَلَى أَظْهَرِ الْأَقْوَالِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ مِنْ طَعَامٍ
Dan jika keduanya khawatir atas anak-anak mereka berdua disebabkan keguguran anak pada wanita hamil dan disebabkan sedikitnya susu pada wanita menyusui, maka mereka berdua boleh tidak berpuasa dan wajib atas keduanya qadha’ karena tidak berpuasa dan fidyah menurut pendapat yang Adzhar untuk setiap satu hari satu mud dari makanan,
لِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ﴾ وَبِذَلِكَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَلَا مُخَالِفَ لَهُمَا
Berdasarkan firman Allah Ta’ala: ﴾Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin﴿1. Dan berdasarkan itu Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma telah berpendapat dan tidak ada yang menyelisihi keduanya.
Catatan
1.
Q.S Al-Baqarah: Ayat 184
وَقَالَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ يَجِبُ الْإِفْطَارُ إِنْ أَضَرَّ الصَّوْمُ بِالرَّضِيعِ وَلَوْ أَرَادَتْ وَاحِدَةٌ أَنْ تُرْضِعَ صَبِيًّا تَقَرُّبًا إِلَى اللّٰهِ جَازَ الْفِطْرُ لَهَا
Dan Al-Qadhi Husain telah berkata: Wajib tidak berpuasa jika berpuasa dapat membahayakan bayi yang disusui, dan seandainya seorang wanita ingin menyusui seorang anak sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah, maka boleh baginya tidak berpuasa.
ثُمَّ هَذَا فِيمَا إِذَا كَانَتَا مُقِيمَتَيْنِ صَحِيحَتَيْنِ أَمَّا لَوْ كَانَتَا مُسَافِرَتَيْنِ وَأَفْطَرَتَا بِنِيَّةِ التَّرَخُّصِ بِالسَّفَرِ أَوِ الْمَرَضِ فَلَا فِدْيَةَ عَلَيْهِمَا
Kemudian (ketetapan hukum) ini dalam hal apabila keduanya adalah dua orang yang mukim, dua orang yang sehat. Adapun jika keduanya adalah dua orang yang bepergian (safar) dan keduanya berbuka dengan niat mendapatkan keringanan karena perjalanan (safar) atau karena penyakit, maka tidak ada fidyah atas keduanya.
وَإِنْ لَمْ تَنْوِيَا التَّرَخُّصَ فَفِي وُجُوبِ الْفِدْيَةِ وَجْهَانِ كَالْوَجْهَيْنِ فِي فِطْرِ الْمُسَافِرِ بِالْإِجْمَاعِ وَالْأَصَحُّ أَنَّهُ لَا كَفَّارَةَ هُنَاكَ.
Dan jika keduanya tidak berniat mendapatkan keringanan, maka dalam kewajiban fidyah ada dua pendapat, seperti dua pendapat dalam tidak berpuasanya orang yang bepergian menurut kesepakatan para ulama’. Dan yang paling sahih bahwasanya tidak ada kafarah di sana.
Hukum Puasa Bagi Orang yang Sakit atau Musafir
قَالَ: (وَالْمَرِيضُ وَالْمُسَافِرُ سَفَرًا طَوِيلًا يُفْطِرَانِ وَيَقْضِيَانِ)
Syekh Abu Syuja berkata: (Orang sakit dan orang yang bepergian dengan perjalanan yang jauh, keduanya boleh tidak berpuasa dan keduanya wajib mengqadha’)
يُبَاحُ لِلْمَرِيضِ وَالْمُسَافِرِ الْإِفْطَارُ فِي رَمَضَانَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾. تَقْدِيرُ الْآيَةِ: فَأَفْطَرَ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ.
Dibolehkan bagi orang sakit dan orang yang bepergian tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman: ﴾Maka, barang siapa di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain﴿1. Perkiraan (makna) ayat ini: kemudian ia tidak berpuasa, maka (ia wajib mengganti) sejumlah dari hari-hari yang lain.
Catatan
1.
Q.S Al-Baqarah: Ayat 184
ثُمَّ يُشْتَرَطُ فِي الْمَرِيضِ أَنْ يَجِدَ أَلَمًا شَدِيدًا. ثُمَّ إِنْ كَانَ الْمَرَضُ مُطْبِقًا فَلَهُ تَرْكُ النِّيَّةِ مِنَ اللَّيْلِ. وَإِنْ كَانَ مُتَقَطِّعًا كَمَنْ يَحُمُّ وَقْتًا دُونَ وَقْتٍ، نُظِرَ:
Kemudian disyaratkan pada orang sakit bahwa ia harus mendapati sakit yang parah. Kemudian, jika penyakit itu terus-menerus, maka baginya boleh meninggalkan niat dari malam hari. Dan jika penyakit itu terputus-putus, seperti orang yang demam sewaktu-waktu, maka diperhatikan:
إِنْ كَانَ مَحْمُومًا وَقْتَ الشُّرُوعِ جَازَ أَنْ يَتْرُكَ النِّيَّةَ مِنَ اللَّيْلِ، وَإِلَّا فَعَلَيْهِ أَنْ يَنْوِيَ مِنَ اللَّيْلِ، فَإِنِ احْتَاجَ إِلَى الْإِفْطَارِ أَفْطَرَ.
Jika ia terbukti demam pada waktu permulaan (puasa), maka ia boleh meninggalkan niat dari malam hari. Dan jika tidak, maka wajib baginya untuk berniat dari malam hari. kemudian jika ia membutuhkan untuk berbuka, maka ia boleh berbuka.
ثُمَّ هَذَا إِذَا لَمْ يَخْشَ الْهَلَاكَ، فَإِنْ خَشِيَهُ وَجَبَ عَلَيْهِ الْفِطْرُ. قَالَهُ الْجُرْجَانِيُّ وَالْغَزَالِيُّ. فَإِنْ صَامَ فَفِي انْعِقَادِهِ احْتِمَالَاتٌ. قَالَهُ الْغَزَالِيُّ. وَاعْلَمْ أَنَّ غَلَبَةَ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ كَالْمَرَضِ.
Kemudian, ini (berlaku) jika ia tidak khawatir akan kebinasaan. Jika ia khawatir terhadap kebinasaan, maka wajib atasnya tidak berpuasa. Imam Al-Jurjani dan Imam Al-Ghazali telah mengatakan tentangnya. Jika ia berpuasa, maka dalam keabsahannya ada beberapa kemungkinan1. Imam Al-Ghazali telah mengatakan tentangnya. Dan ketahuilah bahwa dominasi rasa lapar dan haus adalah seperti penyakit.
Catatan
1.
Yakni kemungkinan sah dan tidaknya sebab ia meninggalkan perkara yang diwajibkan
وَأَمَّا الْمُسَافِرُ فَشَرْطُ الْإِبَاحَةِ لَهُ أَنْ يَكُونَ سَفَرُهُ طَوِيلًا مُبَاحًا فَلَا يَتَرَخَّصُ فِي الْقَصْرِ لِعَدَمِ الْمُبِيحِ وَلَا فِي السَّفَرِ بِالْمَعْصِيَةِ لِأَنَّ الرُّخَصَ لَا تُنَاطُ بِالْمَعَاصِي.
Dan adapun musafir, maka syarat kebolehan baginya adalah bahwa terbukti perjalanannya panjang1, mubah. Maka tidak diberi keringanan dalam perjalanan pendek karena tidak adanya sebab yang membolehkan, dan tidak pula dalam perjalanan untuk maksiat, karena keringanan-keringanan tidak dikaitkan dengan kemaksiatan.
Catatan
1.
Yakni perjalanan yang menjadikan ia boleh mengqashar shalat yaitu 2 marhalah / 16 Farsakh / 89 KM
فَلَوْ أَصْبَحَ مُقِيمًا ثُمَّ سَافَرَ فَلَا يُفْطِرُ لِأَنَّهَا عِبَادَةٌ اجْتَمَعَ فِيهَا السَّفَرُ وَالْحَضَرُ فَغَلَّبْنَا الْحَضَرَ. وَقَالَ الْمُزَنِيُّ: يَجُوزُ لَهُ الْفِطْرُ قِيَاسًا عَلَى مَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَمَرِضَ.
Maka jika ia masuk waktu subuh dalam keadaan mukim kemudian bepergian, maka ia tidak boleh berbuka, karena itu adalah ibadah yang padanya berkumpul safar dan hadar, maka kami mengunggulkan hadar. Dan Imam Al-Muzani berkata: Boleh baginya tidak berpuasa, dengan qiyas (analogi) atas orang yang masuk waktu subuh berpuasa lalu sakit.
نَعَمْ، لَوْ أَصْبَحَ الْمُسَافِرُ وَالْمَرِيضُ صَائِمَيْنِ فَلَهُمَا الْفِطْرُ لِأَنَّ السَّبَبَ الْمُرَخِّصَ مَوْجُودٌ. وَقِيلَ لَا يَجُوزُ.
Ya, jika musafir dan orang sakit masuk waktu subuh berpuasa, maka bagi keduanya boleh tidak berpuasa karena sebab yang membolehkan (keringanan) itu ada. Dan dikatakan tidak boleh.
وَلَوْ أَقَامَ الْمُسَافِرُ أَوْ شُفِيَ الْمَرِيضُ حَرُمَ الْفِطْرُ عَلَى الصَّحِيحِ لِزَوَالِ سَبَبِ الْإِبَاحَةِ. ثُمَّ إِنَّ الْأَفْضَلَ فِي حَقِّ الْمُسَافِرِ يُنْظَرُ: إِنْ لَمْ يَتَضَرَّرْ فَالصَّوْمُ أَفْضَلُ، وَإِنْ تَضَرَّرَ فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ.
Dan jika musafir telah mukim atau orang sakit telah sembuh, maka haram tidak berpuasa menurut pendapat yang sahih, karena hilangnya sebab kebolehan. Kemudian, sesungguhnya yang lebih utama dalam hak musafir itu dilihat: jika ia tidak menjadi mudarat, maka puasa lebih utama, dan jika ia menjadi mudarat, maka tidak berpuasa lebih utama.
وَقَالَ فِي التَّتِمَّةِ: وَلَوْ لَمْ يَتَضَرَّرْ فِي الْحَالِ لَكِنَّهُ يَخَافُ الضَّعْفَ لَوْ صَامَ، وَكَانَ فِي سَفَرِ حَجٍّ أَوْ غَزْوٍ فَالْفِطْرُ أَوْلَى. وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.
Dan imam Al-Mutawalli berkata dalam kitab At-Tatimmah: Dan jika ia tidak menjadi mudarat dalam keadaan itu, tetapi ia khawatir menjadi lemah jika ia berpuasa, dan ia berada dalam perjalanan haji atau perang, maka berbuka lebih utama. Dan Allah lebih mengetahui.
Tinggalkan Komentar
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda
Komentar Pembaca
Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!