Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Kafarat Jima Di Bulan Ramadhan

07 Mar, 2026
Nama kitab:Kifayatul Akhyar
Judul kitab Arab: كفاية الأخيار
Judul terjemah: Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar
Mata Pelajaran:Fiqih
Musonif:Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi
Nama Arab:الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق
Lahir:Hauran, 752 H
Wafat:Damaskus, 1 Syawal 829 H
Penerjemah:Ahsan Dasuki

Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Kitab Puasa

Kifayatul AkhyarImage by © LILMUSLIMIIN

كِتَابُ الصِّيَامِ

Kitab puasa.

Kafarat Jima Di Bulan Ramadhan

قَالَ: (وَمَنْ وَطِئَ عَامِدًا فِي الْفَرْجِ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَالْكَفَّارَةُ، وَالْكَفَّارَةُ عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا)

Syekh Abu Syuja Berkata: (Dan barangsiapa yang melakukan hubungan intim secara sengaja pada kemaluan, maka wajib baginya mengqadha dan membayar kafarat. kafarat itu adalah memerdekakan budak yang mukmin, maka jika ia tidak mendapati (budak), maka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut, maka jika ia tidak mampu, maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin)

Dhabit dan Qaid-Qaid Kaffarah

قَوْلُ الشَّيْخِ: وَمَنْ وَطِئَ، أَيْ، وَهُوَ مُكَلَّفٌ بِالصَّوْمِ وَقَدْ نَوَى مِنَ اللَّيْلِ وَكَانَ الْوَطْءُ فِي النَّهَارِ مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ

Perkataan Syekh Abu Syuja: “Dan barangsiapa yang melakukan hubungan intim”, yakni, dan dia adalah orang yang dibebani kewajiban (mukallaf) dengan puasa, dan sungguh ia telah berniat sejak malam hari, dan keberadaan hubungan intim tersebut terjadi di siang hari pada bulan Ramadhan tanpa adanya udzur.

وَالشَّيْخُ رَحِمَهُ اللّٰهُ لَمْ يَسْتَوْفِ الْحَدَّ، وَكَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ: تَجِبُ الْكَفَّارَةُ عَلَى مَنْ أَفْسَدَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ بِجِمَاعٍ تَامٍّ آثِمٍ بِهِ لِأَجْلِ الصَّوْمِ

Dan Syekh Abu Syuja Rahimahullah belum mengumpulkan batasan definisinya, dan seyogianya beliau mengatakan: “Wajib kafarat atas orang yang merusak satu hari dari bulan Ramadhan dengan hubungan intim yang sempurna yang ia berdosa dengannya karena sebab puasa”.

وَفِيْ هٰذَا الضَّابِطِ قُيُوْدٌ مِنْهَا اَلْإِفْسَادُ، فَمَنْ جَامَعَ نَاسِيًا لَمْ يُفْطِرْ عَلَى الْمَذْهَبِ فَلَا كَفَّارَةَ حِيْنئِذٍ، وَهٰذَا هُوَ الَّذِي احْتَرَزَ الشَّيْخُ عَنْهُ بِقَوْلِهِ عَامِدًا

Dan di dalam dhabit ini terdapat beberapa qaid, di antaranya adalah merusak (puasa), maka barangsiapa yang bersetubuh dalam keadaan lupa maka ia tidak batal puasanya menurut pendapat madzhab, maka tidak ada kafarat ketika itu, dan hal ini adalah perkara yang dikecualikan oleh Syaikh darinya dengan perkataan beliau “dalam keadaan sengaja”.

وَقَوْلُنَا بِجِمَاعٍ احْتَرَزَ بِهِ عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَغَيْرِهِمَا، فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ الْكَفَّارَةُ،

Dan perkataan kami “dengan bersetubuh” mengecualikan dengannya dari makan, minum, dan selain keduanya, karena sesungguhnya hal itu tidak mewajibkan kafarat.

وَقَوْلُنَا تَامٍّ وَقَدْ ذَكَرَهُ الْغَزَالِيُّ احْتِرَازًا عَنِ الْمَرْأَةِ، فَإِنَّهَا لَا يَلْزَمُهَا الْكَفَّارَةُ لِأَنَّهَا تَفْطُرُ بِمُجَرَّدِ دُخُوْلِ بَعْضِ الْحَشَفَةِ

Dan perkataan kami “yang sempurna” dan sungguh Imam Al-Ghazali telah menjelaskan tentangnya sebagai pengecualian dari wanita, karena sesungguhnya wanita tidak wajib baginya kafarat sebab ia telah batal puasanya hanya dengan sekadar masuknya sebagian kepala zakar (hasyafah).

وَقَوْلُنَا آثِمٌ بِهِ احْتِرَازًا عَنِ الْمُسَافِرِ فِيْمَا إِذَا جَامَعَ نِيَّةَ التَّرَخُّصِ فَإِنَّهُ لَا يَأْثَمُ، وَكَذَا بِغَيْرِ نِيَّةِ التَّرَخُّصِ عَلَى الصَّحِيْحِ لِأَنَّ الْإِفْطَارَ مُبَاحٌ لَهُ فَيَصِيْرُ شُبْهَةً فِيْ دَرْءِ الْكَفَّارَةِ،

Dan perkataan kami “yang berdosa karenanya” sebagai pengecualian dari orang yang bepergian (musafir) dalam keadaan apabila ia bersetubuh dengan niat mengambil keringanan (rukhshah) maka sesungguhnya ia tidak berdosa, dan demikian pula (tidak berdosa) tanpa niat mengambil keringanan menurut pendapat yang shahih karena sesungguhnya berbuka puasa itu mubah baginya sehingga hal itu menjadi syubhat1 dalam menggugurkan kafarat,

Catatan
    
1.

yakni pertimbangan / putusan oleh hakim

وَكَذَا لَا كَفَّارَةَ عَلَى مَنْ ظَنَّ بَقَاءَ اللَّيْلِ فَبَانَ نَهَارًا لِانْتِفَاءِ الْإِثْمِ

dan demikian pula tidak ada kafarat bagi orang yang menyangka masih malam lalu jelas telah siang, karena ketiadaan dosa.

وَقَوْلُنَا لِأَجْلِ الصَّوْمِ احْتِرَازٌ عَنْ مُسَافِرٍ أَفْطَرَ بِالزِّنَا مُتَرَخِّصًا فَإِنَّ الْفِطْرَ جَائِزٌ وَإِثْمُهُ بِسَبَبِ الزِّنَا لَا بِسَبَبِ الصَّوْمِ

Dan perkataan kami “karena puasa” adalah pengecualian dari musafir yang berbuka dengan melakukan zina dalam keadaan mengambil keringanan (rukhsah), maka sesungguhnya berbuka itu boleh dan dosanya adalah disebabkan zina bukan disebabkan puasa,

فَإِذَا وُجِدَتِ الْقُيُودُ كُلُّهَا وَجَبَتِ الْكَفَّارَةُ

maka apabila telah ditemukan qaid-qaid1 semuanya, maka wajib membayar kafarat.

Catatan
    
1.

Qaid-qaidnya adalah: merusak puasa, dengan jimak, yang sempurna, berdosa dengan jimak, sebab puasa

Dalil Hadits Tentang Kaffarah

وَحُجَّةُ ذَلِكَ مَا رَوَاهُ الشَّيْخَانِ [أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ فَقَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ فَقَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ

Dan dalil hal tersebut adalah apa yang Imam Bukhari dan Muslim telah riwayatkan pada hadits ini [bahwa sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata: “Aku telah celaka”, maka Nabi bersabda: “Dan apa yang membuatmu celaka?”, lalu ia berkata: “Aku telah menyetubuhi istriku di bulan Ramadhan”

فَقَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تَعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ لَا فَقَالَ هَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا فَقَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا

Lalu Nabi bersabda: “Apakah engkau mendapati (memiliki) sesuatu yang dapat memerdekakan seorang budak?”, ia menjawab: “Tidak”, lalu Nabi bersabda: “Apakah engkau mampu untuk berpuasa dua bulan berturut-turut?”, ia menjawab: “Tidak”, lalu Nabi bersabda: “Apakah engkau mendapati sesuatu yang dapat memberikan makan enam puluh orang miskin?”, ia menjawab: “Tidak”

ثُمَّ جَلَسَ فَأَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرْقٍ فِيهِ تَمْرٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهَذَا فَقَالَ عَلَى أَفْقَرَ مِنَّا فَوَاللّٰهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوجُ إِلَيْهِ مِنَّا

Kemudian ia duduk, lalu Nabi ﷺ datang dengan membawa sebuah wadah besar yang di dalamnya berisi kurma, maka Nabi bersabda: “Bersedekahlah dengan ini”, lalu ia berkata: “Apakah kepada orang yang lebih fakir dari kami? Maka demi Allah, tidak ada di antara dua daerah berbatu hitam (di Madinah) penghuni rumah yang lebih membutuhkannya daripada kami”

فَضَحِكَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ]

Maka Rasulullah ﷺ tertawa hingga tampak gigi taring beliau, kemudian beliau bersabda: “Pergilah, maka berikanlah makan itu kepada keluargamu”]

وَفِيْ رِوَايَةِ الْبُخَارِيِّ [فَأَعْتِقْ رَقَبَةً] عَلَى الْأَمْرِ وَفِيْ رِوَايَةٍ لِأَبِيْ دَاوُدَ [فَأَتَى بِعِرْقٍ فِيْهِ تَمْرٌ قَدْرَ خَمْسَةَ عَشَرَ صَاعًا] قَالَ الْبَيْهَقِيُّ وَهُوَ أَصَحُّ مِنْ رِوَايَةٍ فِيْهِ عِشْرُونَ صَاعًا.

Dan di dalam riwayat Al-Bukhari [Maka merdekakanlah seorang budak] dengan bentuk fiil amr. Dan di dalam riwayat milik Imam Abu Dawud [Maka ia datang dengan keranjang di dalamnya ada kurma seukuran lima belas sha’]. Berkata Al-Baihaqi: “Dan itu lebih shahih daripada riwayat di dalamnya ada dua puluh sha’.”

Kewajiban Takzir dan Kafarat Tartib

وَاعْلَمْ أَنَّهُ كَمَا تَجِبُ الْكَفَّارَةُ يَجِبُ التَّعْزِيْرُ أَيْضًا وَادَّعَى الْبَغَوِيُّ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ وَالْكَفَّارَةُ مَا ذَكَرَهُ وَهِيَ كَفَّارَةُ تَرْتِيْبٍ فَإِنْ عَجَزَ عَنِ الْجَمِيْعِ اسْتَقَرَّتْ فِيْ ذِمَّتِهِ

Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya sebagaimana wajib kaffarah, wajib juga ta’zir. Dan Imam Al-Baghawi telah mengkalim ijma’ (konsensus) atas hal itu. Dan kaffarah itu adalah apa yang telah sykeh Abu Syuja sebutkan, yaitu kaffarah berurutan. Maka jika ia tidak mampu dari semuanya1, maka kafarat tetap dalam tanggungannya2.

Catatan
    
1.

Yakni dari memmerdekakan budak mukmin atau berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin

2.

Jika ia tidak mampu pada saat itu maka ia tidak berkewajiban menunaikannya namun jika di masa mendatang ia mendapatkan kemampuan maka ia wajib menunaikannya

وَلَوْ شَرَعَ فِيْ الصَّوْمِ أَوِ الْإِطْعَامِ ثُمَّ قَدَرَ عَلَى الْمَرْتَبَةِ الْمُقَدَّمَةِ لَمْ تَلْزَمْهُ عَلَى الْأَصَحِّ.

Dan seandainya ia memulai dalam puasa atau memberi makan, kemudian ia mampu atas tingkatan yang lebih dahulu, maka tidak wajib baginya menurut pendapat yang paling shahih.

Catatan
    
1.

Jika seseorang tidak mampu menunaikan urutan pertama yakni membebaskan budak mukmin sehingga ia menunaikan urutan kedua yakni berpuasa dua bulan bertururt-turut lalu belum dua bulan berpuasa ia mendapati kemampuan untuk menunaikan urutan pertama maka tidak wajib baginya untuk beralih dari urutan kedua ke urutan pertama

Pendapat Ulama Tentang Kaffarat Untuk Keluarga Sendiri

وَلَوْ كَانَ مَنْ تَلْزَمُهُ الْكَفَّارَةُ فَقِيرًا فَهَلْ يَجُوزُ لَهُ صَرْفُهَا إِلَى أَهْلِهِ فِيهِ وَجْهَانِ

Dan jika terbukti orang yang kaffarah wajib kepadanya adalah orang miskin, maka apakah boleh baginya membelanjakan kaffarah tersebut kepada keluarganya? Di dalamnya (masalah ini) ada dua pendapat.

أَحَدُهُمَا نَعَمْ لِلْحَدِيثِ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ كَالزَّكَاةِ وَسَائِرِ الْكَفَّارَاتِ، وَالْجَوَابُ عَنِ الْحَدِيثِ مِنْ أَوْجُهٍ.

Salah satunya (pendapat) adalah ya, berdasarkan hadits. Dan yang shahih adalah bahwa itu tidak boleh seperti zakat dan seluruh kaffarah-kaffarah. Dan jawaban tentang hadits itu dari beberapa sisi.

أَحَدُهَا أَنَّهُ لَيْسَ فِي الْحَدِيثِ مَا يَدُلُّ عَلَى وُقُوعِ التَّمْلِيكِ، وَإِنَّمَا أَرَادَ أَنْ يُمَلِّكَهُ لِيُكَفِّرَ بِهِ، فَلَمَّا أَخْبَرَهُ بِحَالِهِ تَصَدَّقَ بِهِ عَلَيْهِ.

Salah satunya adalah bahwa tidak ada di dalam hadits itu sesuatu yang menunjukkan atas terjadinya kepemilikan (penyerahan hak milik). Dan sesungguhnya Nabi ﷺ bermaksud untuk menyerahkan hak miliknya kepada orang tersebut agar ia (orang miskin) dapat membayar kafarat dengannya. Maka ketika orang miskin tersebut memberi tahu Nabi tentang keadaannya, Nabi bersedekah dengan hak miliknya kepada orang miskin tersebut.

Catatan
    
1.

Pemberian dari Nabi kepada pria tersebut dianggap sebagai sedekah biasa untuk keluarganya, bukan sebagai bentuk penunaian kafarat yang diserahkan kembali ke keluarganya.

الثَّانِي يُحْتَمَلُ أَنَّهُ مَلَّكَهُ إِيَّاهُ، أَيْ أَمَرَهُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِهِ، فَلَمَّا أَخْبَرَهُ بِحَاجَتِهِ أَذِنَ لَهُ فِي إِطْعَامِهِ لِأَهْلِهِ، لِأَنَّ الْكَفَّارَةَ بِالْمَالِ إِنَّمَا تَكُونُ بَعْدَ الْكِفَايَةِ.

Yang kedua, kemungkinan bahwa Nabi ﷺ menyerahkan hak miliknya kepada orang tersebut, yakni, Nabi memerintahkan orang tersebut untuk bersedekah dengannya. Maka ketika ia (orang miskin) memberitahu Nabi tentang kebutuhannya, Nabi mengizinkan baginya dalam memberikannya kepada keluarganya, karena kaffarah dengan harta hanyalah terjadi setelah kecukupan.

الثَّالِثُ يُحْتَمَلُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَطَوَّعَ بِالتَّكْفِيرِ عَنْهُ وَسَوَّغَ لَهُ صَرْفَهُ إِلَى أَهْلِهِ وَتَكُونُ فَائِدَةُ الْخَبَرِ أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْغَيْرِ التَّطَوُّعُ بِالْكَفَّارَةِ عَنِ الْغَيْرِ بِإِذْنِهِ وَأَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمُتَطَوِّعِ صَرْفُهَا إِلَى أَهْلِ الْمُكَفَّرِ

Yang ketiga, kemungkinan bahwa Nabi ﷺ telah berderma dengan membayar kaffarah dari orang tersebut, dan membolehkan baginya untuk menyerahkannya kepada keluarganya. Dan faedah dari berita ini adalah bahwa boleh bagi orang lain untuk berderma dengan (membayar) kaffarah dari orang lain dengan izinnya, dan bahwa boleh bagi orang yang berderma untuk menyerahkannya kepada keluarga orang yang kaffarahnya dibayarkan.

وَهَذِهِ الْأَجْوِبَةُ ذَكَرَهَا الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Dan jawaban-jawaban ini Imam Syafi’i telah menjelaskannya dalam kitab Al-Umm. Dan Allah lebih mengetahui.